Tentang Desaku (Batubi)

Posted on Updated on

jembatan yang ada di desa batubi

“Saya lebih bersemangat untuk berhemat, tidak hanya uang, tapi juga energi dan air.”

Hal yang aku sukai dari dunia ini adalah kedamaiannya, kesejukannya, keindahannya dan juga kesegarannya. Yah, dunia yang hijau tentunya.

Ketika aku kecil dulu, aku hidup disebuah perdesaan yang sangat menyenangkan, bagiku. Disitu aku merasa bebas bagaikan “Tarzan Desa”, dimana aku bebas mandi di air sungai yang jernih dan aku bebas bermain perang-perangan bersama teman-teman ku, karena di desa kami itu memiliki paparan lahan tanaman yang sangat luas, dan aku bebas melakukan apapun di situ.

Disetiap ma’grib, aku dan bersama teman-temanku pergi mengaji disebuah surau kecil yang ada di desaku. suraunya agak jauh dari rumahku kira-kira satu kilo meter. Aku dan temanku pun selalu pergi bersama-sama sambil bercanda tawa dan pulangnya pun kami selalu bersama-sama dengan penerangan lampu senter seadanya. Maklum lah pada tahun 1999 di desaku memang belum ter-aliri listrik dan saat sekarang ini pun masih sama, hihihihi. jadi, disepanjang jalan di desaku itu tidak ada penerangan jalan sama sekali, sangatlah gelap gulita. kadang-kadang ada teman kami yang sekedar iseng ngerjain kami, mereka biasanya bersembunyi di semak-semak yang gelap gulita itu untuk menakut-nakuti kami, terkadang  kami ketakutan. nah, aku lah orang yang lari paling kencang jika soal itu, hehe

Makanan kami dulu sangat lah segar-segar, langsung kami petik dari kebun kami sendiri yang kami tanam dan kami rawat dengan baik bagaikan merawat diri sendiri, sehingga hasil panennya pun berlimpah-luah. Ada kangkung disisi-sisi sumur kami, ada bayam di setiap kebun kami, dan dari kami juga ada yang berternak ayam kampung yang setiap hari nya ada aja ayamnya yang  bertelor. Yang aku suka dari mereka adalah mereka tidak pernah pelit atas apa yang mereka punya. Asik kan ? hihi pokoknya bakalan kangen lah ; ) hehehehehe

Aku dulu sangat suka buat minuman dari putih telor ayam kampung, putih telor yang aku campur dengan air tebu dan air hangat, terus diaduk-aduk sampai airnya berbusa, sudah itu dihirup busanya. Beh, rasanya bro, maknyus tenan..!!! hahaha

Kini, masa itu tinggal-lah kenangan, kawan. Indah yang tidak bisa aku lupakan itu, kini semuanya telah lenyap seiring masuknya mereka-mereka yang rakus akan kekuasaan, harta dan tahta (yah, penguasa). Mereka menggunduli hutan-hutan di desa kami dengan dalih membuka lahan untuk ditanami kelapa sawit yang nanti di setiap hektarnya itu akan dibagikan disetiap KK yang ada di desa kami. Dan kini desa kami menjadi gersang, proyek itu terbengkali begitu saja. Yah, nasi sudah menjadi bubur mau di apa lagi.

Cuma seperempat proyek itu berjalan dan kini kelapa sawit itu sudah besar, kira-kira ribuan pohon kelapa sawit yang telah mereka tamami. pernah ada seorang mengajukan untuk mencari investor yang mau membuka pabrik mini kelapa sawit di desa kami. sudah ada investor yang mau menggelontorkan uang mereka untuk pabrik itu. Mereka pun melakukan survey ke lapangan dan ternyata hasilnya adalah jumlah panen perharinya itu tidak mencukupi suplay yang di tergetkan oleh mereka. sehingga mereka pun  urung untuk menginvestasikan uang mereka ke program pembangunan pabrik mini kelapa sawit.

Dan dari semua itu, hatiku pun telah ditumbuhi benih kebencian yang kini kian membesar. aku yakin di suatu saat nati pasti akan membuahkan kehancuran bagi mereka semua. Percayalah, karena itu adalah buah dari hasil yang telah kalian semaikan kepada kami, ingat itu semua.

Temanya tentang apa ya ? awalnya hanya sekedar cerita-serita tentang kampung. kok tiba-tiba marah-marah, hehehehe enggak jelas. : )

Advertisements