Terjadi Insiden di Depan Mata

Posted on Updated on

kasus tabrak lari

Jam 10 malam selepas pulang kerja, aku rencana mau mampir ke mini market untuk membeli kopi sachet. Entah, kenapa malam itu aku ingin sekali minum kopi sampai aku rela muter-muter untuk mencari kopi.

Aku berjalan kaki. Setengah jalan dari kefe boboiboy tempat aku kerja menuju mini market street 32, aku melihat nenek pemungut kardus bekas yang setiap siang selalu mengais-ngais tong sampah di tempat aku kerja. Aku kenal sekali nenek itu, aku sering terpapasan sama dia saat aku lagi buang sampah atau ketika lagi nyapu di depan kafe tempat aku kerja.

Nenek itu berjalan sambil mendorong gerobak sampah dengan penuh tidak berdaya. Aku sempat menoleh melihatnya malam itu. Sungguh lemah sekali, buat berjalan saja sudah tak berdaya. Mukanya pucat seakan kependeritaan hidupnya terukir jelas diwajahnya. Aku berhenti sejenak karena didorong oleh hati yang iba terhadap kependeritaannya.

Aku berfikir untuk nenek seumuran dia berjalan pun sudah tak sanggup dan harus bertahan hidup di kota besar seperti johor ini dengan memungut kardus bekas yang tak seberapa harganya. Jika dijual paling-paling RM1/kilo. Sedangkan biaya makan disini mahal-mahal untuk satu porsi ayam penyet di kafe aku kerja RM11 kalau dijumlahkan ke rupiah dikisaran Rp 30.000, mana sanggup.

Oleh itu, aku berhenti sejenak buka dompet ngambil uang untuk ngasih nenek tersebut. Rencana aku mau kasih dia RM 50, setelah difikir-fikir tak jadi, aku ambil RM10. Selepas aku narik uang, aku mendengar suara dentuman keras, seketika aku menoleh nenek tersebut terpental di tabrak mobil tepat dimata aku, selagi aku megang uang untuk si nenek tersebut.

Seketika itu aku menjadi berang sama si pengemudi mobil tersebut. Tampa sadar aku berlari kencang mengejar mobil tersebut. Apa daya, mobil itu pun melaju dengan kencang melebihi aku.

Cukup jauh aku berlari dengan penat aku pun berhenti dan kembali di tempat kejadian dan aku melihat jasad nenek tersebut bergeletak di tengah jalan. Aku bingung harus bagai mana, aku pun kembali ke tempat aku kerja dan menceritakan semuanya kepada teman-temanku. Teman ku menyarankan aku pulang. Maklum, aku disini masuk ke malaysia hanya menggunakan paspor melancong, jadi kalu aku menjdi saksi takut masalah jadi runyam.

Dan aku pun bergegas pulang ke kosanku yang tidak jauh dari tempat aku kerja. Sampai di kosan hatiku tidak tenang dan berasa bersalah jika aku tidak menjadi saksi. Aku pun nekat apapun yang terjadi nanti terserahlah dan aku pergi lagi ketempat kejadian yang sudah penuh dengan orang dan dijaga oleh polisi.

Sampai di tempat kejadian aku merasa lain lagi entah takut atau apa, aku pulang lagi ke kosan. Dan sampai dikosan hatiku lagi-lagi tidak tenang. Aku pun lantas memanggil abah dan menceritakan semuanya dan abah pun bergegas keluar pergi ke lokai kejadian dan menyuruh ku tetap di kos. Hati malah makin tak tenang aku pun menyusul abah kesana. Yang membuat aku jadi tenang setelah dapat kabar dari abah bahwa nomor polisi mobil yang nabrak sudah diketahui dan ternyata selain aku ada orang lain juga yang melihat kejadian tersebut.

Emang kejadian itu tepat dimataku, tapi aku tidak bisa melihat nomor polisi mobil tersebut karena mataku rabun jauh. Ciri-ciri mobil cukup aku kenali.

Usut punya usut, aku dapat cerita dari teman yang sudah lama kerja di kafe tersebut. Ternyata nenek pemulung kardus yang di tabrak itu, orang kaya. Anaknya pemilik bengkel mobil yang besar di sebelah cafe tempat aku kerja.
Beliau keturunan tionghua. Tapi tidak ada yang tahu kenapa nenek itu sampai menjadi pemulung, entah mungkin dia ingin mandiri dan tidak mau menyusahi anak-anaknya atau mungkin anaknya yang menelantar ibunya?! (sungguh kejam, tapi aku tidak mau berburuk sangka kepada orang lain)…

aku berharap si penabrak itu ketangkap. Ini soal kemanusiaan. Nenek itu bukan tikus yang ditabrak sudah itu ditinggalkan begitu saja di tengah jalan. Emang sudah takdir si nenek meninggal seperti itu. Tapi si penabrak ini kita tidak tahu, apakah dia mabuk, lalai, ngantuk, tak nampak dan semua alasan itu harus dipertanggungjawabkan. Disidangkan dan diadili. Soal bersalah atau tidaknya dia itu urusan nanti. Yang penting kita sudah menjalankan keadilan untuk si nenek itu.

Setiap manusia memiliki nilai, kedudukan hukum, identitas dan hak-hak lainnya yang sama, baik dia itu kaya maupun dia itu miskin. Kemanusian yang adil dan beradap itu dasar pemikiran atau lahirnya sebuah demokrasi. Bagai mana bisa demokrasi lahir tampa kemanusiaan itu sendiri sebagai objeknya?

Advertisements